Friday, November 8, 2013

3 Tahun yang Sia-sia

Posted by dewiacih at 1:56 PM

Kepribadian seseorang siapa sih yang bisa tau, semua yang terlihat baik di luarnya belum tentu hatinya baik pula, begitu juga sebaliknya. Suatu pengalaman hidup terburuk dan semoga tidak membuatku mengulangi hal yang sama ini untuk kedepannya.


Penyesalan? Itu bukan hal yang harus disesali, karena inilah proses dalam hidup, kita harus melewati tahap demi tahap untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadikan pelajaran hidup sebagai guru yang paling berharga, tentunya adalah satu-satunya keputusan paling bijak untuk menyikapi semua masalah yang dihadapi.

Cerita pribadi yang ingin aku beberkan ke diary online ini, tidak bermaksud untuk memojokkan siapapun, hanya berniat berbagi pengalaman agar tidak ada lagi korban penipuan yang ber-cover cinta atau kasih sayang. Ini adalah salah satu kisah nyata yang benar-benar terjadi, semoga tidak ada lagi aku (sebagai korban) yang lain.

Tanggal 3 Juli 2010, aku jadian dengan seseorang yang berinisial Y, yang pada masa itu menjalani 8 bulan pertama dengan status LDR. Kami sempat putus sambung sampai 3 kali, putus pertama kami pada tanggal 21 September 2011 tepat selama 5 minggu, lalu jadian lagi untuk yang kedua kalinya pada tanggal 26 Oktober 2011. Putus kedua kami pada tanggal 18 Januari 2013, tepat 1 hari sebelum aku wisuda. Selama 2 bulan setelah kami putus yang kedua, kami masih dekat seperti biasanya, mulai bulan Maret 2013, hubungan komunikasi kami hampir terputus total, kira-kira sampai bulan puasa 1434 H pada bulan Juli 2013, kami mulai berkomunikasi lancar kembali.


Kami lancar berkomunikasi saat itu bermula karena aku bercerita ibuku sakit dan tidak ditemukan penyakitnya setelah dilakukan check up seluruh badan. Lalu bapakku dan nenekku berinisiatif pergi ke seorang 'pintar' (yang menggunakan ilmu Islam dan Jawa) bernama Pak Slamet untuk mengkonfirmasi kemungkinan adanya hal-hal di luar nalar. Ternyata memang ada, ibuku ditempeli oleh hantu anak kecil laki-laki sewaktu ibuku mengikuti outbound di Kaliurang. FYI, cowok berinisial Y ini mempunyai indera ke-6 bawaan keturunan. Aku menceritakannya karena aku berpikir mungkin dia mempunyai solusi yang dapat membantuku disamping tetap menggunakan doa yang diberikan oleh Pak Slamet. Memang benar, dia 'memagari' rumahku agar si hantu anak kecil laki-laki itu tidak bisa masuk ke rumahku. Untuk hal ini, just say Big Thanks for your help my mom.

Komunikasi ini berlanjut, namun memang kami tidak pernah jalan berdua keluar, sampai akhirnya dia mengatakan "Oh jadi mau ketemuan sama aku kalo pas lagi ada butuhnya aja yaa, kalo aku yang ajak gak mau.". Okee aku cukup tertampar dengan kalimat ini, akhirnya aku pun mau diajak ketemuan lagi dengannya. Singkatnya dari bulan puasa 1434 H kemarin kira-kira bulan Juli 2013 kami lancar berkomunikasi lagi dan sempat beberapa kali bertemu setelahnya.

Seperti sebelum-sebelumnya, dia pun mulai perhatian lagi kepadaku, sampai hal-hal kecil sekalipun, hingga bisa dibilang aku pun sedikit meleleh. Tanggal 20 Oktober 2013, dia mengirimkan pesan singkat seperti biasanya, namun berisi sebuah pengakuan kalau dia sudah mempunyai pacar lagi yang bernama Okta dan sudah jadian lebih dari 2 minggu. Memang aku sangat terpukul, karena perhatian dia selama berkomunikasi tenyata sudah terbagi, lalu aku memintanya untuk tidak menghubungiku lagi, karena saat itu aku ingin mencoba benar-benar melupakan. Tapi dia tidak bersedia lost contact, malah keesokan paginya dia bilang sudah memutuskan pacar barunya itu dikarenakan masih sayang aku dan tidak ingin menyakitiku. Aku merasa aneh bercampur senang saat itu. Sejak saat itu, dia semakin perhatian dan kami pun sering ketemuan.

Beberapa kali saat kami bertemu, dia selalu mengajak aku untuk balikan dan berpacaran lagi dengannya, namun selalu ku tolak dengan beberapa alasan. Tak menyerah dia juga meyakinkanku melalui pesan singkat juga, ketika aku meminta bukti bahwa dia benar-benar sayang aku, dia membeberkan beberapa hal:
- kalo udah gak sayang, dari habis putus dulu gak bakal hubungin dan pengen ketemu lagi
- dia memutuskan Okta demi aku
- dia selalu berusaha dapat restu orang tuaku
- dia bakal jadi pribadi kayak yang aku mau
- dia bakal buktiin dan gak bakal nyerah buat lakuin itu
- dia pengen balikan gak cuman buat pacaran, tapi pengen kita sama-sama jalan 1 visi buat kebaikan kita kedepannya, dan lain-lain.
Ucapan itu diulang-ulang terus saat ketemuan maupun via pesan singkat. Sampai akhirnya aku bersedia balikan lagi pada tanggal 12 September 2013.

Di luar dugaanku, setelah jadian, dia malah sering menghilang, sering tidak ada kabar bahkan sampai berhari-hari. Hari ulang tahunku pun yang tadinya dia berjanji akan keluar denganku pun, malah sama sekali tidak ada kabar dan membatalkan ketemuan denganku. Hari demi hari bukan malah semakin baik tapi malah semakin membuatku sakit hati setiap harinya. Sangat berbeda ketika jadian yang dulu, oh tidak perlu jauh-jauh, saat mendekatiku lagi sebelum jadian yang terakhir ini pun sudah sangat jauh berbeda sikap dan sifatnya. Malah sering mengatakan untuk tidak berharap padanya lagi, APA??? waktu deketin lagi kamu tu ngasih jutaan harapan yang membuatku berharap tapi sekarang malah dengan entengnya bilang tidak boleh berharap padanya!!!

Aku bener-bener gak tau apa motif dia melakukan hal keji yang menyakitiku setiap hari sejak hari pertama jadian. Seakan-akan aku diajak terbang tinggi lalu dijatukan dengan cara dibanting. Bahkan akhir-akhir dia tidak pernah memberi kabar, tidak ada perhatian, tidak pernah ngobrol, semuanya flat: bangun tidur sms - pamit berangkat kerja - menghilang - balik lagi bangun tidur sms, begitu seterusnya. Dan setiap aku komplain kenapa gak ada waktu buat aku, jawabnya gitu-gitu aja:
- kalo kamu gak suka yaudah, aku emang gini sekarang, udah berubah, udah beda dari yang dulu
- aku pengen kejar cita-citaku, pengen bahagiain orang tuaku, jadi aku korbanin waktu buat ketemuan
- aku tu sibuk, banyak kerjaan, katanya bisa ngerti tapi masih aja nuntut.

Disini aku mulai curiga, perubahan drastis yang begitu mendadak, aku curiga pada satu nama: RINA. Siapa Rina buat dia??? Aku sering melihat aktivitas dia di Facebook yang selalu nge-like apapun posting-an dari Rina. Setelah aku scroll timeline Facebook-nya Rina, aku melihat like dari dia sejak Agustus 2013 tidak pernah absen, sampai status terakhirnya. Rina juga sering sms, dia juga sering salah kirim sms yang harusnya ke Rina tapi kekirim ke aku, namaku di kontak Hpnya cuman nama biasa, bahkan sampai aku pegang HPnya aja dia udah kelabakan setengah mati, beda banget sama yang dulu yang enteng aja walaupun HP aku bawa. Setiap aku meminta penjelasan, jawabannya tidak membuatku lega, diantaranya:
- Rina tu cuman temenku
- Rina tu cuman tempat aku pesen makanan
- Rina tu udah tunangan sama yang namanya Pepi
- Rina tu udah aku anggep adekku sendiri
- Berarti aku gak boleh punya temen cewek? Gak boleh smsan sama temen cewek?

Hellow, mana janji-janjimu yang waktu deketin aku lagi??? Yang waktu aku nolak terus dan kamu selalu ngeyakinin aku sampai mulutmu berbusa. Akhirnya aku cuman dibuang gitu aja. Padahal aku sudah mengantongi restu dari orang tuaku yang selama ini jadi kendala, tapi aku udah berhasil dapetin, tapi apa yang aku dapetin dari kamu???

Tanggal 4 November 2013 malam, dia masih mengucapkan selamat tidur dan mengucapkan kata sayang, lalu tanggal 5 November 2013 dini hari, aku menanyakan apa maksud status Facebook-nya yang bertuliskan "HAPPY ENDING" karena pada saat yang sama status Facebook Rina bertuliskan "Alhmdllh smua lancar,,,smg ini mnjd yg terakhir,,amin". Dia hanya menjawab gpp sampai 2x sms dan sms ke-3nya dia marah-marah "Apa sih tanya" ga pntg gt?? Udh dblg gpp yaa gpp..". Aku paksa terus akhirnya dia bilang kalau mereka sudah bertunangan. HAA??? TRUS MAKSUDMU KE AKU TU APA???

Aku refleks, langsung telepon Rina saat itu dan ternyata Rina pun tidak tau kalau ia diduakan. Rina mengajakku ketemuan jam 7 pagi. Si cowok tambah 'naik pitam' sama aku, mungkin karena si cowok ini tidak ingin Rina tau kalo Rina diduakan denganku, karena si cowok ini takut pertunangannya batal. Lhaa memang itu yang dia lakukan, kenapa harus takut??? Toh mulutnya manis, cuman modal mulut buat ngeyakinin Rina aja pasti juga berhasil.

Alkid jam 7 pagi. Pertama aku lihat ayah dan mami (panggilan sayangnya Y dan Rina) berboncengan di depan mataku, dan si ayah tersenyum sinis dan bilang "Kenapa?". Jleb banget rasanya, aku merasa direndahin yang serendah-rendahnya, diinjek-injek, diremehin. Perasaan direndahin itu gak berhenti sampai disitu, masih banyak lagi ternyata setelahnya. Si ayah nyamperin aku dan menyelesaikan masalah hanya dengan mengatakan hal yang sangat enteng dan tanpa solusi, "Aku tau aku salah, aku minta maaf, aku mau serius sama Rina, aku gak bisa sama kamu lagi.", sesimpel itu dan buat aku itu sangat-sangat merendahkan aku, tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Lalu dia membuat alasan fiktif lainnya yang membawa-bawa ibuku, "Aku udah terlanjur sakit hati sama omongan-omongannya ibu kamu yang sering ngremehin dan ngrendahin aku.". Si ayah pun mengembalikan HP yang aku pinjamkan. Disitu ayah dan mami malah ribut sendiri, aku langsung pergi kerumah ayah, karena sebelumnya aku sudah berkirim sms dengan Mbak Nunik, kakak ceweknya ayah.

Aku bercerita dan menangis di depan Mbak Nunik, yang tak lama kemudian ayah dan mami datang. Terungkap semua bahwa ternyata ayah dan mami sudah jadian sejak Juni 2013. Lalu kenapa harus deketin aku lagi setelah itu, sampai se-meyakinkan itu, kalau pada akhirnya bakal memilih Rina??? Apa sih tujuan kamu??? Cuman pengen liat aku jatuh dan dia bisa injek-injek aku gitu???

Aku dan Rina meng-kroscek-kan beberapa kejadian, yang intinya setiap gak ada kabar ke aku berarti lagi sama Rina, begitu juga sebaliknya. Saat itu terungkap juga bahwa tokoh Okta yang pernah dia bilang itu fiktif, Okta itu gak pernah ada dan hanya khayalan si ayah. Si ayah terus-terusan membela diri dan menyakinkan mami dengan alasan yang macam-macam yang diragukan kebenarannya. Si mami sempat kabur dan ayah mengejarnya sambil menyalakan rokok, sebelumnya ayah mengatakan padaku "Puas kamu sekarang?", puas dari mana, toh itu perbuatan dia sendiri. Aku jawab, "Emang ada yang salah yaa dengan omonganku? Adakah omonganku yang berbohong?".

Entah mereka berdua pergi kemana aku tidak terlalu ambil pusing, langsung aku pamit pulang sama Mbak Nunik. Sampai dirumah, aku kroscek ke ibuku tentang yang si cowok tadi katakan padaku sering bertemu ibuku di luar dan ibuku mengatakan hal-hal yang merendahkan dan meremehkan si cowok. Ibuku langsung membantah dan sampai berkali-kali bersumpah demi Allah kalau ibuku tidak pernah bertemu dengan si cowok itu selain dirumahku. Well, aku percaya ibuku.

Belum lama aku dirumah, Bu Ninuk (teman kerja Rina yang sudah ibu-ibu) meneleponku mengajakku ketemuan dan ngobrol. Tak lama kemudian, Rina mengirimkan sms padaku dan mengajak bertemu aku di Lapangan Karang, Kotagede. Akhirnya kami bertiga bertemu dan saling bercerita yang sebelumnya belum sempat dibahas. Si ayah akan melamar dan bertunangan dengan mami pada tanggal 20 November 2013 tepat di hari ulang tahun ayah. Di saat itu, Mbak Nunik mengirim sms padaku dan mengatakan nomor ayah tidak aktif, begitu juga Rina dan Bu Ninuk juga menghubungi si cowok tapi tidak berhasil. Aku mengatakan bahwa memang nomornya tidak aktif karena HP yang ku pinjamkan ke si cowok sudah dikembalikan tadi sewaktu di Alkid. Rina kaget, "HP yang mana?", aku jawab "HP Nokia yang putih kecil itu punyaku.", "Coba liat, kamu bawa gak?". Lalu ku tunjukkan HP tersebut dan Rina marah-marah, "Kemarin pinjam uangku 200ribu buat beli HP, katanya HP-nya hilang jatuh di Alkid, yaa aku kasih trus besoknya aku liat dia bawa HP itu, kirain itu HP yang dia beli, eh ternyata itu HP-mu toh?". Aku bilang, "Tapi bilangnya sama aku, HP-nya itu rusak speakernya trus dijual, makanya aku pinjemin HP biar dia bisa komunikasi sama aku, malah buat pacaran sama cewek lain.". Semua kebohongan si cowok terbongkar!!! Dan aku seketika aku membayangkan semua omongannya yang sudah berlalu adalah sekedar bualan!!! BUSUK BANGET!!!

HP Rina bunyi, saudaranya menelepon katanya si cowok nyariin Rina kerumahnya, Rina bilang kalau mau ketemu suruh ke Lapangan Karang aja. Tak lama kemudian si cowok itu pun sampai dan kita ngobrol berempat. Lagi-lagi aku direndahin. Bu Ninuk menanyakan ke si cowok, "Kalau udah sama Rina ngapain masih berhubungan sama Dewi?", si cowok itu jawab, "Soalnya dia kalo gak aku tanggepin dia ngejar-ngejar terus, tau sendiri kan Bu, waktu aku di tempat kerja Rina, HP-ku bunyi terus. Dia tu telepon-telepon aku terus, sms-sms aku terus.". Jleb lagi untuk kesekian kalinya, sekarang dipikir deh pakai logika, pacarku gak ada kabar seharian bahkan bisa berhari-hari dan aku disuruh diam aja gak kuatir? Kalau bukan pacar aku gak mungkin nuntut dikabarin! Wajar dong kalo aku sms atau telepon berkali-kali, toh sekalipun juga dia gak balas sms ataupun gak angkat teleponku.

Aku bertanya pada si cowok, "Trus kenapa kalo udah sama Rina, kamu masih ngejar-ngejar aku, berkali-kali nembak lagi minta balikan dengan omongan yang kasih banyak harapan?", si cowok menjawab singkat dengan entengnya, "Karena aku kasihan sama kamu, aku cuman kasihan, aku gak bener-bener sayang sama kamu.". Berasa mukaku lagi ditampar dan hatiku diiris-iris. PERIIIIIIIHHHHHHH BANGEEEEEEETTTTTTT!!!

WEY!!! Hidupku malah udah adem-ayem sejak jarang komunikasi sama kamu!! Kamu minta ketemu, kamu nembak lagi, aku bahkan minta bukti macem-macem dan butuh waktu mikir yang cukup lama buat benar-benar ngeyakinin aku sama kamu!!! Dan sekarang semua fakta diputer balik, saat itu aku merasa sendirian, gak ada yang belain aku, sedangkan mereka bertiga. Aku merasa terus dipojokkan sejak dari pertama bertemu di Alkid sampai detik itu.

Si cowok dan Bu Ninuk akhirnya sepakat, si cowok silakan buktiin dan lamar ke Rina kalau benar-benar serius, tapi sebelumnya harus menyelesaikan urusan denganku dulu. Aku gak peduli saat itu, aku sedang menikmati indahnya rasa sakit hati yang begitu dalam. Subhanallah, berarti Allah masih sayang sama aku dengan diberikan ujian yang begitu membuatku terluka sangat dalam.

Pertemuan itu diakhiri kira-kira pukul 12.00 WIB, entah mereka bertiga pergi kemana, aku sendiri memutuskan untuk 'sowan' Gusti Allah di masjid terdekat. Badanku lemas lunglai, tidak ada rasa lapar, tidak ada rasa kantuk malam tidak tidur, benar-benar tekanan batin yang sangat dalam, sampai menangis pun aku tidak bisa. Setelah selesai sholat aku menghubungi beberapa sahabatku, EKA, VIA dan VIRA.

Setelah menunggu hujan reda sebentar, aku menjemput Eka dan kami ke Ambarukmo Plaza. Aku menceritakan semuanya ke sahabatku yang telah mengenal aku dan mengenal si cowok itu dari kecil (karena kami bertiga pernah bertetangga). Eka itu sosok orang yang selalu melindungi dan menjagaku, aku selalu merasa aman setiap dengannya, selalu dibela. Eka sangat tidak terima dengan perlakuan si cowok itu, tapi dia pasti tidak bisa mengontrol emosi dan tangannya apabila bertemu langsung dengan si cowok. Kami saling bercerita sampai masuk adzan Maghrib, lalu kami pulang.

Sampai rumah aku teringat yang dibilang Vira, besok ujian CPNS BPKP..... AARRGGGGHHHH aku sama sekali gak siap!!!

Lanjutan cerita: Guna-guna.

0 comments on "3 Tahun yang Sia-sia"

Post a Comment

 

Purplepink Stories Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal