Maafkan aku yaa pembacaku, eemm kayak banyak yang baca aja..
Seperti yang diketahui bahwa draft semakin banyak dan aku tidak ingin menyentuhnya sedikitpun, bukan apa-apa, aku hanya tidak ada keinginan untuk menulis, for longgg time.
Dan sekarang pun aku tidak ingin menulis, aku hanya ingin curhat.
Pernah ku dengar dari seorang temanku, bahwa setiap orang pasti mendapatkan setidaknya satu kali masalah besar dalam hidupnya. Masalah yang dimaksud adalah masalah yang mungkin orang lain tidak pernah menduga, masalah yang mungkin orang lain tidak akan pernah mengalaminya, atau masalah yang mungkin orang lain pun tidak sanggup walau hanya membayangkannya. Dan lebih dari enam tahun terakhir, aku berada di dalam lingkaran masalah ini.
Setiap orang pasti merasa iri satu sama lainnya, tak terkecuali aku, dan aku pun pasti bisa dilihat membuat beberapa orang iri padaku. Tapi pikiran ini jauh-jauh aku buang, karena kamu tidak pernah tau apa yang Allah ambil dari seseorang, sehingga Allah memberikan sesuatu pada orang tersebut yang membuatmu iri. Intinya, Allah memberi sesuatu pada seseorang menggantikan apa yang telah Ia ambil dari orang tersebut.
Apa yang diberi untukku?
Orang lain mungkin ada yang melihatku hidup sempurna. Aku masih dikaruniai orang tua yang lengkap, adik yang pintar, punya kehidupan normal dan baik-baik saja. Hidup berkecukupan, terlihat selalu harmonis. Okay mungkin itu yang orang lihat dari keluargaku.
Lalu aku, kecerdasan yang pas-pasan, kadang kalau lagi pintar yaa dapat peringkat, kalau enggak yaa biasa aja, sekarang diterima kerja di tempat yang bisa memberiku penghasilan untuk membeli semua hal yang aku mau, membawaku jalan-jalan ke tempat yang aku ingin datangi. Look so perfect, don't?
Tapi itulah yang dilihat orang. Aku memang anak sosmed (social media -red), dengan begitu aku bisa men-share apa saja yang sedang terjadi. Masa kuliah kebawah mungkin bisa dibilang aku belum bisa memilah mana yang harus diketahui orang dan mana yang tidak. Namun seiring waktu, aku tau mana yang harus orang tau dan tidak. Begitu pun ketika aku selalu men-share moment yang mungkin orang ingin jalan kemanapun seperti aku.
Karena orang lain tidak perlu tau kan apa yang aku risaukan? Karena orang lain tidak perlu tau kan apa yang membebaniku? That's why.
Apa yang diambil dariku?
Dibalik semua itu, aku hanya punya satu beban terberat yang tidak tau lagi bagaimana aku harus membawanya, bisa atau tidak? Aku harus bisa, dan sampai berapa lama lagi setelah berjalan enam tahun ini, aku pun tidak tau.
Pernahkah kamu merasa hidupmu hambar?
Pernahkah kamu tidak bisa bebas menentukan jalan hidupmu?
Pernahkah kamu tidak punya hak menentukan keputusan masalahmu semau kamu?
Pernahkah kamu tidak bisa mengontrol dirimu sendiri setiap hari selama bertahun-tahun?
Pernahkah kamu tidak mempunyai pilihan?
Pernahkah hidupmu dikuasai orang lain tanpa kamu ketahui?
Pernahkah kamu dijatuhkan sejatuh-jatuhnya?
Pernahkah kamu dikecewakan sedalam-dalamnya?
Pernahkah cita-citamu dipatahkan oleh orang yang selalu kamu percaya?
Pernahkah kebahagianmu tak kunjung datang selama bertahun-tahun?
Pernahkah punya masalah terberat dalam hidupmu dan kamu tidak bisa menceritakannya pada siapapun?
Pernahkah kamu berada diantara banyak orang dan kamu tidak terlihat oleh mereka, dan berlangsung selama bertahun-tahun?
Pernahkah doa dan usahamu sia-sia oleh hal yang diluar kendalimu?
Pernahkah kamu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kamu tidak bisa melampiaskan, bahkan menangispun tak bisa, seakan sudah kering air matamu? Bisakah kau bayangkan, masalahmu seperih apa sampai mengiris tak hanya hatimu, bahkan mengiris hidupmu, lalu kamu tidak bisa menangis.
And the last, apa yang akan kamu perbuat ketika pesonamu ditutup oleh orang yang senang melihatmu menderita? Hingga doa dan usahamu sia-sia, hingga kamu lelah (tidak ingin mengharapkan sesuatu yang berakhir sia-sia) meng-aamiin-kan setiap doa dari orang-orang yang berada disekitarmu dan menyayangimu.
Aku sudah berada di titik ini, aku lelah meng-aamiin-kan doa semua orang yang berdoa agar aku cepat menikah. You know why, itu semua sia-sia, gak ada gunanya. Sekuat apapun aku berusaha, sebosan Allah mendengarku memohon. Aku menyerah untuk hal yang di luar kendaliku. Tak lain aku hanya butuh keajaiban Penciptaku untuk mengikuti skenario-Nya. Aku pasrah, aku menyerah.
Dan inilah yang selalu aku usahakan untuk dilupakan, walaupun aku tau aku tidak akan pernah bisa lupa. Aku hanya sebatas tidak ingin mengingat-ingat lagi. Aku suka jalan-jalan dan belanja, that's why aku melampiaskan dengan melakukan itu semua setelah aku berpenghasilan sendiri.
Jujur saja aku tidak pernah memikirkan menabung, aku tidak pernah mempermasalahkan harga tiket yang bahkan orang tidak akan mengambil nominal semahal itu untuk rute yang sama. Atau barang-barang mahal yang orang tidak akan membeli dengan harga semahal itu. Beberapa part dari kebahagianku telah diambil, dan aku tidak ingin melewatkan sesuatu yang membuatku senang hanya karena pertimbangan mahalnya harga.
Dan inilah aku, yang berusaha tidak mengingat (bukan melupakan, karena lupa hal pedih itu tidak mungkin) dan melakukan hal yang membuatku senang, apapun itu, entah jalan-jalan, belanja, bekerja or doing something else. Yang penting aku senang... and of course, whatever people say!
Tapi itulah yang dilihat orang. Aku memang anak sosmed (social media -red), dengan begitu aku bisa men-share apa saja yang sedang terjadi. Masa kuliah kebawah mungkin bisa dibilang aku belum bisa memilah mana yang harus diketahui orang dan mana yang tidak. Namun seiring waktu, aku tau mana yang harus orang tau dan tidak. Begitu pun ketika aku selalu men-share moment yang mungkin orang ingin jalan kemanapun seperti aku.
Karena orang lain tidak perlu tau kan apa yang aku risaukan? Karena orang lain tidak perlu tau kan apa yang membebaniku? That's why.
Apa yang diambil dariku?
Dibalik semua itu, aku hanya punya satu beban terberat yang tidak tau lagi bagaimana aku harus membawanya, bisa atau tidak? Aku harus bisa, dan sampai berapa lama lagi setelah berjalan enam tahun ini, aku pun tidak tau.
Pernahkah kamu merasa hidupmu hambar?
Pernahkah kamu tidak bisa bebas menentukan jalan hidupmu?
Pernahkah kamu tidak punya hak menentukan keputusan masalahmu semau kamu?
Pernahkah kamu tidak bisa mengontrol dirimu sendiri setiap hari selama bertahun-tahun?
Pernahkah kamu tidak mempunyai pilihan?
Pernahkah hidupmu dikuasai orang lain tanpa kamu ketahui?
Pernahkah kamu dijatuhkan sejatuh-jatuhnya?
Pernahkah kamu dikecewakan sedalam-dalamnya?
Pernahkah cita-citamu dipatahkan oleh orang yang selalu kamu percaya?
Pernahkah kebahagianmu tak kunjung datang selama bertahun-tahun?
Pernahkah punya masalah terberat dalam hidupmu dan kamu tidak bisa menceritakannya pada siapapun?
Pernahkah kamu berada diantara banyak orang dan kamu tidak terlihat oleh mereka, dan berlangsung selama bertahun-tahun?
Pernahkah doa dan usahamu sia-sia oleh hal yang diluar kendalimu?
Pernahkah kamu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kamu tidak bisa melampiaskan, bahkan menangispun tak bisa, seakan sudah kering air matamu? Bisakah kau bayangkan, masalahmu seperih apa sampai mengiris tak hanya hatimu, bahkan mengiris hidupmu, lalu kamu tidak bisa menangis.
And the last, apa yang akan kamu perbuat ketika pesonamu ditutup oleh orang yang senang melihatmu menderita? Hingga doa dan usahamu sia-sia, hingga kamu lelah (tidak ingin mengharapkan sesuatu yang berakhir sia-sia) meng-aamiin-kan setiap doa dari orang-orang yang berada disekitarmu dan menyayangimu.
Aku sudah berada di titik ini, aku lelah meng-aamiin-kan doa semua orang yang berdoa agar aku cepat menikah. You know why, itu semua sia-sia, gak ada gunanya. Sekuat apapun aku berusaha, sebosan Allah mendengarku memohon. Aku menyerah untuk hal yang di luar kendaliku. Tak lain aku hanya butuh keajaiban Penciptaku untuk mengikuti skenario-Nya. Aku pasrah, aku menyerah.
Dan inilah yang selalu aku usahakan untuk dilupakan, walaupun aku tau aku tidak akan pernah bisa lupa. Aku hanya sebatas tidak ingin mengingat-ingat lagi. Aku suka jalan-jalan dan belanja, that's why aku melampiaskan dengan melakukan itu semua setelah aku berpenghasilan sendiri.
Jujur saja aku tidak pernah memikirkan menabung, aku tidak pernah mempermasalahkan harga tiket yang bahkan orang tidak akan mengambil nominal semahal itu untuk rute yang sama. Atau barang-barang mahal yang orang tidak akan membeli dengan harga semahal itu. Beberapa part dari kebahagianku telah diambil, dan aku tidak ingin melewatkan sesuatu yang membuatku senang hanya karena pertimbangan mahalnya harga.
Dan inilah aku, yang berusaha tidak mengingat (bukan melupakan, karena lupa hal pedih itu tidak mungkin) dan melakukan hal yang membuatku senang, apapun itu, entah jalan-jalan, belanja, bekerja or doing something else. Yang penting aku senang... and of course, whatever people say!
0 comments on "Hidupku Sempurna?"
Post a Comment