Begitu banyak deretan draft tulisanku yang sampai ada sarang laba-labanya, tapi tetiba dapet inspirasi lain buat nulis. By the way, udah lama looh aku gak nulis sesuatu tentang perspektifku. Omaygat, selama ini aku cuman dalam pikiran aja, gak ada waktu buat stay di depan laptop buat curahin semuanya.
Bukan sok sibuk sih, cuman setiap ada materi dan niat nulis, aku kudu meluangkan waktu berjam-jam. Aku gak mau tulisanku cuman aku aja yang ngerti, jadi selalu ku baca berkali-kali mengandaikan aku seorang yang awam, mengandaikan aku orang lain sebagai pembaca baru, it's so ribet kan yaa? Tapi itulah aku..
Dulu sewaktu kuliah sampai nganggur pernah nargetin minimal tiga materi sebulan buat dicurahin disini, tapi gak kesampaian sepertinya. Bukan karena gak ada materi, tapi kadang gak bisa ngluangin waktu yang harus berjam-jam itu. Karena masalah materi bukan hal yang rumit, banyak looh kejadian di sekitar(ku) kita yang bisa diulas.
Salah satunya adalah tentang IKHLAS. Aku pengen nulis tentang ikhlas, tentang semua yang ada di sekelilingku, dari suatu kejadian, gelagat orang, dan lain hal yang berhubungan dengan satu kata banyak definisi ini.
Coba tengok sebentar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karena aku suka bermain dengan kombinasi kata, nulisku selalu bersahabat dengan KBBI. Inilah definisi Ikhlas menurut KBBI..
![]() |
| Definisi kata "ikhlas" dalam KBBI |
Bisa disimpulkan, ikhlas dalam KBBI berarti merelakan sesuatu dengan hati yang tulus, intinya kita tidak boleh nggrundel (dalam bahasa Jawa, yang berarti: mengeluh di belakang/dalam hati).
Mudah ataukah Sulit
Secara definisi KBBI, ikhlas sangat simpel. Tapi bagaimana ketika kita mengaplikasikannya dalam keseharian kita. Seperti hal-hal lainnya, teori memang semudah menjawab matematika dengan soal satu ditambah satu. Praktek yang akan memberi pelajaran lain, seperti layaknya soal kalkulus, geometri dan tentunya logika matematika yang membuat otak berputar menghubungkan antara benar dan salah.
Contoh sederhana deh, yang banyak dialami anak sekolahan (mungkin seumur hidup akan ditemui juga sih), "seorang teman meminjam pena dan tidak pernah kembali lagi". Bagaimana kamu menyikapinya?
Untuk satu kali, si pemilik pasti berpikir, "yaudah buat teman kan, lagian cuma seharga dua ribu", gak worth it laah kalo diminta balik, soalnya cuman seharga dua ribu.
Paling tidak si pemilik akan mengulang cara berpikir demikian hingga setidaknya tiga sampai lima kali kejadian tersebut. Setelah itu bagaimana?
Setelah kejadian itu berulang keenam kalinya dengan peminjam yang sama, apakah si pemilik akan tetap memikirkan hal yang sama? Apakah si pemilik masih bisa menganggap dirinya ikhlas? Apakah ikhlas itu mudah? ataukah sulit?
Bukan tentang Nominal
Melanjutkan satu contoh diatas, semakin lama si pemilik akan berpikir dan pasti nggrundel, bukan masalah nominal yang menjadi sebab. Bukan lagi tentang cuman seharga dua ribu, tapi tentang sikap si peminjam.
Bagaimana ikhlas bisa bekerja di suatu hal yang terjadi secara sengaja berulang-ulang oleh orang yang sama? Dalam logikaku, ikhlas tidak akan pernah ada di kejadian yang berulang-ulang tersebut. Ini tentang opiniku, aku akan menjadi orang yang terpaksa ikhlas, yang singkatnya, aku tidak bisa memberikan ikhlasku untuk suatu hal yang terjadi berulang-ulang. Karena untuk teman, aku tergolong orang yang nyah-nyoh (dalam bahasa Jawa, yang berarti: yaudah ambil aja kalik), ikhlas bukan main kalau dengan teman.
Lalu ketika hal itu terjadi berulang kali, seakan-akan si teman berpikir, "aah kemarin si Dewi pas aku kayak gitu dianya gakpapa kok, sekarang juga gakpapa pasti", keikhlasanku berubah menjadi terpaksa ikhlas alias tidak ikhlas. Itu terjadi karena aku hanya tidak ingin hubungan pertemanan rusak karena hal-hal kecil dan karena aku tidak ingin punya masalah dengan siapapun.
Kadang aku merasa sekejam dan setega itu, tapi ternyata hal itu tak hanya dialami oleh aku seorang. Fyi aja sih, sewaktu aku sekolah, aku pernah sengaja meninggalkan teman dekat menjadi aku tidak ingin kenal sama sekali, hanya karena suatu hal yang terjadi berulang-ulang itu.
Karena sesungguhnya, dari aku kecil selalu diajarkan suatu keteraturan dan aku tidak merepotkan orang lain dalam hal sekecil apapun, itulah kenapa aku bisa handle apapun sendiri, dan guna temanku hanya perlu mendengarkan ceritaku, tak perlu melakukan apa-apa untukku. Itulah yang ada di pikiranku.
Ikhlas itu Tidak Ada Batasnya
Sebagai seorang muslim yang baik, aku tau satu pernyataan bahwa "Ikhlas itu tidak ada batasnya", dan ketika kamu merasa sudah sampai di batas keikhlasan artinya kamu belum ikhlas.
Setuju!
Aku memang bukan manusia sempurna, selalu terus belajar agar aku tidak pernah terpaksa ikhlas pada hal yang terjadi berulang-ulang itu. Namun ternyata ikhlas itu pelajaran yang paling susah di kehidupanku, salah satu pelajaran dimana aku selalu mendapat rapor merah untuk prakteknya, bahkan praktek sekecil dan semudah apapun selalu gagal. Dan tentunya menjadi urutan pertama di deretan nilai burukku.
Tau Diri
Agaknya terkesan kasar kalau bicara tentang tau diri, tapi si pemilik yang ikhlas itu harus berteman dengan si peminjam yang mempunyai sikap tau diri. Tidakkah kamu bisa memikirkan, betapa harmonisnya sebuah hubungan keikhlasan dengan tau diri?
Sehingga hal yang tidak disukai seorang teman terhadap temannya yang lain akan menjadi minimal, bahkan dianulir dengan keselarasan hubungan kedua sifat itu. Tidak akan pernah ada kejadian negatif yang akan terjadi berulang-ulang.
Si peminjam membeli pena setelah kejadian peminjaman itu, lalu semua akan berjalan lagi seperti biasanya tanpa ada satupun yang nggrundel.
Bukankah itu indah??

0 comments on "Ikhlas"
Post a Comment