Aku ingin memeluk erat salah tingkahku,
tak akan membiarkannya mendongak memamerkan kepada dirinya,
yang selalu ku nanti dibalik pintu.
Aku ingin mengolesi wajahku,
tak ku biarkan pink kesayanganku menghiasinya,
saat empat bola mata terkunci menjadi satu.
Aku ingin menjahit bibirku,
tak ingin mengembangkannya bereaksi atas senyumnya,
yang ku tau sesungguhnya dikirimkan lewat angin untuk yang terpisah jarak.
Karena sesungguhnya mengikatmu dengan ucap dan laku lebih dari cukup.
Bersamamu di anganku sudah menguatkanku.
Jakarta,
7 September 2014
0 comments on "Puisi: Silent Love (2)"
Post a Comment